Bengkulu Layani Puluhan Ribu Peserta KB Baru

Bengkulu, IPKB – Pemerintah Provinsi Bengkulu, melalui Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setempat, pada 2019 lalu layani puluhan ribu peserta KB baru.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Ir. Rusman Efendi, MM kepada wartawan di Bengkulu menyampaikan, berdasarkan hasil laporan bulanan, hingga November 2019 capaian peserta KB baru di Bengkulu sebanyak 27.723 akseptor.

Peserta sebanyak itu terdapat di sejumlah daerah kabupaten/kota di Bengkulu. Bengkulu Utara sebanyak 3.671 peserta, Bengkulu Selatan 1.184, Rejang Lebong 3.623 akseptor, Kota Bengkulu 4.854, Mukomuko 2.399, Kabupaten Kaur 1.871 peserta.

Pelayanan KB pada Bhaksos

Sementara untuk peserta KB baru di Kabupaten Seluma sebanyak 1.760, Kepahiang 4.200, Kabupaten Lebong 2.452 dan Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak 1.709 peserta KB baru, rincinya.

Ia menambahkan, peserta baru itu dengan mengunakan berbagai metode kontrasepsi, Intera Uterine Device (IUD) sebanyak 1.219, Medis Operatif Waita (MOW) 527 peserta, Medis Operatif Pria (MOP) sebanyak 4 peserta, implant 3.823.

Sedangkan peserta dengan menggunakan metode kontrasepsi lainnya seperti kondom sebanyak 1.424, pil sebanyak 6.561 peserta, dan suntik sebanyak 14. 156 akseptor.

Dikatakan Rusman, Program KB dengan pelayanan kontrasepsi merupakan bagian dari pelaksanaan program Kependudukan yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor : 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Kontrasepsi kata Rusman, adalah program upaya pengaturan jarak kehamilan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) baik kualitas kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Ia menambahkan, dalam konteks perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam rangka pembangunan nasional yang berkelanjutan. Penempatan penduduk sebagai titik sentral pembangunan tidak saja program nasional namun juga menjadi komitmen internsional.

Melalui pelayanan program KB dengan pemasangan kontrasepsi bagi pasangan usia subur itu dapat mempercepat capaian pembangunan kependudukan di Bengkulu.

Penurunan kelahiran atau dengan keberhasilan program KKBPK, ujar Rusman dapat menghasilkan peluang bonus demografi di Indonesia. Bonus demografi, terjadi akibat adanya transisi demografi yaitu penurunan tingkat kematian (mortality) yang diikuti penurunan tingkat kelahiran (fertility).

Bonus demografi, merupakan kondisi dimana populasi usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari non produktif (-14 tahun dan + 65 tahun). Kondisi itu menempatkan pada bonus demografi bagi suatu daerah, pungkasnya.(rs)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *