Tiga Langkah Remaja Hadapi Bonus Demografi

Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Prov. Bengkulu

Bengkulu, IPKB – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu Ir. Rusman Efendi, MM mengatakan, dalam menyonsong peluang bonus demografi di tanah air perlu persiapkan generasi yang berkualitas untuk mampu bersaing dalam pada era industri 4.0.

Bonus demografi, dimana kondisi penduduk usia produktif berada pada proforsi yang lebih besar dibandingkan jumlah nonproduktif. Indonesia menikmati bonus demografi sejak tahun 2000, dan bergerak menuju terbukanya windows of opportunity di 2020-2030, yaitu ketika rasio ketergantungan pada level yang terendah yaitu 44 per 100 orang usia produktif. Tetapi rasio ini akan meningkat lagi sesudah 2030 karena meningkatnya penduduk lanjut usia (lansia).

Persiapan untuk menyambut momen emas itu harus dimulai dengan memperkuat dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi mendorong pertumbuhan ekonomi sebelum rasio ketergantungan meningkat.

Indonesia dengan jumlah penduduk usia remaja mencapai 35,32 persen (SP 2010) atau mencapai 90 jita jiwa lebih. Dalam menyonsong bonus demografi, ada tiga hal penting yang perlu dipersiapkan generasi muda, kata Rusman Efendi kepada wartawan di Bengkulu baru ini.

Ada tiga langkah penting yang perlu dipersiapkan remaja dalam menghadapi bonus demografi pada era industri 4.0, yaitu remaja perlu belajar untuk meningkatkan intelegensia, belajar berorganisasi untuk meningkatkan kemampuan leadership serta harus belajar bersosialisasi untuk memperluas kemampuan dalam berbagai kegiatan positif, ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa, Saat ini Indonesia menikmati bonus demografi karena penurunan fertilitas, yang terjadi akibat adanya transisi demografi. Yaitu penurunan tingkat kematian (mortality) yang diikuti oleh penurunan tingkat fertilitas (fertility). Juga pengaruh faktor migrasi (in-out). Dan terjadi akibat terjadinya penurunan rasio ketergantungan (dependency ratio), karena jumlah penduduk usia tidak produktif (0-14 dan 60+) lebih rendah dibandingkan penduduk usia produktif (15-59 tahun).

Ia menambahkan, untuk menyonsong bonus demografi itu, tak kalah penting remaja perlu dibekali dengan berbagai keterampilan, keterampilan hard skill, soft skill dan life skill. Hard skill, kata Rusman, adalah kemampuan yang bersifat teknis pekerjaan, seperti penguasaan bahasa asing, teknologi dan kemampuan akademis, yang mutlak diperlukan sebagai prasyarat masuk dunia kerja.

Soft skill adalah yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.

Dan, life skill dimana kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif. Yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan, tantangan dengan efektif. Dengan demikian maka remaja dapat hadir menjadi generasi emas dan pelaku dalam bonus demografi, tambahnya.

Mempersiapkan generasi emas, diawali dengan perencanaan remaja, pernikahan yang tersencana, aktif bersosial masyarakat, menrapkan pola hidup sehat, berpendidikan formal yang tinggi, serta berkerja yang kompetitif, sehingga mampu menjadi generasi yang siap menghadapi bonus demografi era industri 4.0 dan society 5.0, pungkas Rusman. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *