Koalisi Kependudukan Kritisi Isu Kelahiran Remaja dan Kematian Ibu

Bengkulu, IPKB – Ketua Koalisi Kependudukan Daerah Bengkulu Dr. Heri Sunaryanto pada workshop perumusan isu tentang dampak pengendalian penduduk di Bengkulu mengkritisi beberapa isu kependudukan, termasuk isu kelahiran remaja dan kematian ibu.

Fertilitas remaja merupakan isu penting karena berhubungan dengan tingkat kesakitan serta kematian ibu dan anak, ujar Heri Sunaryanto dalam materi workshop perumusan isu tentang dampak pengendalian penduduk di Aula Balai Pelatihan dan Pengembangan Perwakilan Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu beberapa pekan lalu.

Selain kelahiran pada remaja yang diangkat serius pada sektor kependudukan itu, juga isu kematian ibupun menjadi hal yang tak kalah menarik untuk menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan.

Ia mengatakan, ibu yang berumur remaja lebih berisiko untuk mengalami masalah kesehatan dan kematian yang berkaitan dengan persalinan dibandingkan dengan wanita yang lebih tua. Selain itu, melahirkan pada umur muda mengurangi kesempatan mereka untuk melanjutkan pendidikan atau mendapatkan pekerjaan.

Menurut dia, perlunya kritik bagi pelaku program kependudukan itu agar pelaksanaan program pembangunan kependudukan di daerah itu dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi dan bonus demografi.

Persentase remaja wanita yang sudah pernah melahirkan atau sedang hamil anak pertama naik dari 8,8 persen pada SDKI 2012 menjadi 12,9 persen pada SDKI 2017.

Ia menambahkan, isu tersebut disebabkan oleh pernikahan usia anak. Hal itu dapat dipicuh oleh beberapa faktor, kemiskinan, pergaulan bebas dan juga disebabkan akibat rendahnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi, ujarnya.

Hasil Survey Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2017, pernikahan anak di Bengkulu berada pada angka 23,04 persen perempuan menikah pada usia 17-18 tahun, sedangkan sebanyak 16,17 persen perempuan menikah dibawah usia 16 tahun. Angka tertinggi kehamilan muda terjadi di Muko-muko 24,54 persen, Kepahyang 20,22 persen, Bengkulu Tengah 19,88 persen

Menurut Heri, mengatasi persoalan kelahiran pada kelompok usia remaja 15-19 tahun itu dengan pemberian materi/informasi yang disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak/remaja dapat meningkatkan pemahaman remaja atas sistem, proses, fungsi alat reproduksi dan cara menjaga kesehatan reproduksinya, serta meningkatkan pemahaman atas konsep perencanaan kehidupan berkeluarga, ujarnya.

Ditambahkan Heri, selain isu kelahiran pada usia remaja dan kematian ibu, isu strategis kependudukan yang perlu dikritisi yaitu tentang, penurunan total fertility rate (TFR) dan Bonus Demografi, peningkatan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dan ledakan penduduk. Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat dan ketersediaan lapangan kerja.

Dan, isu peningkatan angka harapan hidup (AHH), penyediaan sarana dan prasarana bagi lansia. Meningkatnya jumlah penduduk kota dan hilangnya tenaga potensial di pedesaan.

Serta yang tak kalah penting menjadi perhatian semua pihak yaitu fertilitas remaja, kematian ibu dan bayi, serta Age Specific Fertility Rate (ASFR 15-19) dan isu tingkat kemiskinan yang tinggi, kata Heri Sunaryanto dalam materinya pada workshop di Bengkulu belum lama ini.

Isu utama kependudukan yang paling seksi diperbincangkan adalah isu penurunan total fertility rate dan bonus demografi. Karena, penyebab utama bonus demografi adalah keberhasilan penurunan fertilitas (Kelahiran), kata Heri.

Bengkulu sudah masuk era Bonus Demografi sejak 2012 , dimana Angka Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) kurang dari 50 % dan mencapai puncaknya pada 2021- 2028.

Rasio Ketergantungan adalah jumlah penduduk usia non-produktif (0-14 ditambah penduduk usia diatas 64 tahun) dibagi jumlah penduduk usia produktif (15-64). Puncak Bonus Demografi adalah ketika penduduk usia produktif (15-64) mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk.

Menjadi Bonus Demografi apabila penduduk usia produktif bekerja. Dengan kata lain 2 (dua) orang usia produktif bekerja menanggung 1 (satu) orang tidak bekerja. Pemerintah harus dapat memanfaatkan kesempatan bonus demografi ini dengan baik.(rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *