Dr. Heri Sunaryanto : Bonus Demografi Jika Penduduk Produktif Bekerja

Bengkulu, IPKB – Tidak sedikit diksi per-diksi yang menarik dalam pembahasan pada materi rapat kerja daerah (Rakerda) program Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Banggakencana) yang digelar Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu akhir Februari lalu.

Ketua Koalisi Kependudukan dan Pembangunan Daerah Bengkulu Dr. Heri Sunaryanto, M.A., Ph.D dalam materinya yang mengangkat judul ” Peluang Bonus Demografi di Provinsi Bengkulu menyebutkan diksi atau kalimat yang amat perlu dicermati dengan seksama yaitu ” Bonus demografi apabila penduduk usia produktif bekerja ” Dengan kata lain 2 (dua) orang usia produktif bekerja menanggung 1 (satu) orang tidak bekerja. Pemerintah harus dapat memanfaatkan kesempatan bonus demografi ini dengan baik.

Ketua Koalisi Kependudukan dan Pembangunan Benkulu, Dr. Heri Sunaryanto, M.M., Ph.D

Beberapa kalimat di atas agar membuka luas pemahaman publik tentang bonus demografi itu, sebab diyakini tidak sedikit orang menilai hal tersebut akan hadir berdasarkan ” waktu bukan aksi atau perbuatan “. Sehingga dalam mempersiapkan bonus demografi tidak mengetahui apa yang harus diperbuat.

Indonesia diprediksi akan mendapat bonus di tahun 2020-2030. Bonus tersebut, dimana angka rasio ketergantungan (Dependency Ratio) kurang dari 50 persen. Rasio Ketergantungan adalah jumlah penduduk usia non-produktif (0-14 ditambah 64 ke-atas) dibagi jumlah penduduk usia produktif (15-64). Puncak Bonus Demografi adalah ketika penduduk usia produktif (15-64) mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk.

Menurut Heri, untuk menjadikan bonus demografi itu nyata apabila penduduk usia produktif bekerja. Dengan kata lain bahwa disini, tidak akan terjadi jika hanya berpaut pada usia saja yang berada pada kelompok produktif tetapi tidak menghasilkan baik terhadap keluarga, lingkungan dan bangsa.

Untuk menjadikan kelompok usia produktif yang berproduksi, pemerintah dituntut untuk menyiapkan keterampilan dan lapangan kerja bagi penduduk kelompok tersebut. Jika tidak tersedianya lapangan kerja serta tidak memiliki keterampilan maka penduduk yang dibanggakan akan menjadi peluang pembangunan ekonomi itu tidak memberikan dampak positif, bahkan akan sebaliknya menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan yang akan berujung pada kelompok pelaku kriminal.

Bonus demografi itu, jika tidak dipersiapkan dengan baik peluangnya itu maka akan berdapak buruk bagi pembangunan ekonomi pemerintah. ” Bonus demografi dapat memberikan dampak positif dan negatif “.

Dampak positif dengan meningkatkan pendapatan, meningkatkan daya beli, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan investasi dan lapangan kerja. Dan selain itu juga terdapat dampak negatif jika tidak dapat dimanfaatkan dengan baik yaitu, akan terjadinya penyempitan lapangan kerja, meningkatkan pengangguran, peningkatan kemiskinan, menurukan kualitas hidup, dan dapat terjadinya penyimpangan sosial, ujarnya.

Dikatakan Heri, peneyebab utama terjadinya bonus demografi yaitu keberhasilan pemerintah dalam menurunkan kelahiran, dan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan usia harapan hidup.
Penurunan tingkat kelahiran akan menyebabkan meningkatnya proporsi/ persentase penduduk usia produktif (15-64), dan angka harapan hidup (Life expectancy) yang tinggi akan meningkatkan proporsi Lansia (64 keatas) dan meningkatkan ratio ketergantungan terhadap penduduk usia produktif (15-64).

Angka kelahiran total di Bengkulu sebesar 2,3 anak lahir (SDKI) 2017 dan ditargetkan pada 2020 kelahiran di Bengkulu sebesar 2,06 anak, sementara angka harapan hidup (Life expectancy) 70 tahun. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *