BKKBN Kampanye Kesehatan Reproduksi Di Kampung KB

Bengkulu, IPKB – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, akhir Februari lalu kampanyekan kesehatan reproduksi (Kespro) di salah satu desa yang ditetapkan sebagai kampung KB.

Kampanye tersebut berlangsung di Desa Tanjung Seluai Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Sosialisasi yang melibatkan puluhan remaja yang tergabung dalam kelompok Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Bengkulu, kata Pelaksana harian (Plh) Kepala Sub Bidang Bina Ketahanan Remaja (BKR) Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Weldi Suisno, S.Pd., M.E kepada wartawan di kantornya belum lama ini.

” Kita gelar sosialisasi/kampanye kespro selama dua hari sejak 29/2 hingga 01/3 di Desa Tanjung Seluang, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, yang melibatkan 50 orang remaja GenRe”.

GenRe Prov. Bengkulu Kampanye KesPro di Kampung KB, Seluma, Bengkulu. (Photo AKIE BKKBN)

Dipilihnya desa tersebut sebagai sasaran sosialisasi, kata Weldi, salah satunya adalah wilayah kampung KB dan mengingat desa terpencil bagian dari penyumbang tinggi pernikahan usia anak.
Dengan alasan itulah pihaknya gelar penyuluhan kespro baik bagi remaja putra/putri dan bahkan kepada orang tua atau pasangan usia subur (PUS).

Dikatakan Weldi, bahwa pengetahuan kespro diperlukan sumua remaja, baik pria maupun wanita. Melalui kegiatan yang melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) KB diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi. Dengan demikian diharapkan dapat meminimalisir beberapa permasalahan yang mengganggu kesehatan reproduksi. Baik disebabkan oleh perilaku seks bebas, maupun perilaku pacaran tidak sehat, ujarnya.

Sosialisasi itu bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja tentang Kespro, agar remaja dapat terhindar dari persoalan yang merusak masa depan generasi muda Indonesia. Antara lain perilaku
seks bebas yang dapat mengakibatkan pernikahan usia anak, penyalahgunaan narkotika, psikoptropika, dan zat adiktif (Napza).

Berdasarkan data yang terhimpun menyebutkan, pada 2017 lalu jumlah penduduk usia 10-17 tahun terdapat di wilayah perdesaan mencapai 209.045 jiwa, angka tersebut jauh lebih besar
dibandingkan remaja di perkotaan yang hanya sebanyak 99.633 jiwa, kondisi tersebut menjadikan alasan yang cukup kuat dilaksanakannya sosialisasi kespro di perdesaan, ujar Weldi.

Dan, alasan lainpun menguatkan, melihat dari kasus pernikahan anak usia 10-17 tahun di wilayah perdesaanpun lebih tinggi dibandingkan anak di kota, hal itu dapat diketahui dengan sebesar 0,71 persen di wilayah perkotaan dan 1,5 persen perdesaan, ujarnya.(rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *