Depan > Index Artikel > STRATEGI PEMBINAAN CALON ASEPTOR KB
STRATEGI PEMBINAAN CALON ASEPTOR KB
Selasa, 5 Februari 2013  |  BkkbN

Oleh: Drs. H. Syafri  Kepala Badan PP dan KB Kabupaten Rejang Lebong

 

Berdasarkan Data Demografi hasil Pendataan Keluarga Tahun 2011 yang dilaksanakan oleh BKKBN Provinsi Bengkulu bersama Badan PP dan KB Kabupaten Rejang Lebong bahwa Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Rejang Lebong adalah 71.236 Kepala Keluarga (KK) terdiri dari 267.190 jiwa, 78.395 jiwa diantaranya adalah Wanita Usia Subur (WUS) yaitu wanita berusia 15 – 49 tahun  sedangkan Pasangan Usia Subur (PUS) berjumlah 53.899 dan sampai dengan bulan April tahun 2012 adalah 54.505 Pasang yang tersebar di 15 kecamatan atau di 156 desa/kelurahan. Hal yang menarik dari data demografi diatas  bahwa dari 267.190 jiwa sekitar 30% diantaranya adalah berusia remaja yaitu berkisar 11 – 20 tahun atau pra PUS menurut Program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB). Remaja merupakan generasi penerus dan aset pembangunan bangsa kedepan, oleh karenanya dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera di Kabupaten Rejang Lebong, maka kegiatan Badan PP dan KB Kabupaten Rejang Lebong senantiasa terfokus pada pembinaan terhadap penduduk secara luas dan merata dari sejak dalam kandungan sang ibu sampai menjadi manusia lanjut usia baik yang berdomisili diperkotaan maupun di pelosok desa. Proses dan strategi pembinaan penduduk tersebut melalui kelompok kelompok kegiatan yang tergabung dalam program ketahanan keluarga dan pembinaannya meliputi pembinaan terhadap para remaja atau Pra PUS dan para keluarga baik sudah menjadi Peserta KB Aktif maupun Peserta KB baru serta Pasangan Usia Subur (PUS) yang belum berKB. Pembinaannya pun dilaksanakan secara berkesinambungan oleh seluruh personil yaitu staf 35 orang di lini lapangan Petugas Keluarga Berencana Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB) 26 orang dan dibantu oleh 175 orang Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dan 825 orang Sub Pembantu Pembinan Keluarga Berencana Desa (Sub PPKBD) yang tersebar di 156 desa/kelurahan. Strategi pembinaannya adalah melalui program kegiatan yang diarahkan kepada kelompok kelompok kegitan (POKTAN) yang dibentuk oleh masyarakat sendiri di setiap desa/kelurahan, sehingga kelompok kelompok tersebut merupakan perpanjangan tangan bagi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rejang Lebong (Badan PP dan KB Kab RL) dalam rangka mengimplementasikan setiap program program kegiatannya di lini lapangan yang meliputi:

 

A.   Program Pembinaan terhadap para remaja atau Pra PUS.

1.   Program Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR): adalah Program yang diarahkan kepada kelompok beranggota para orang tua atau para keluarga yang mempunyai anak remaja, untuk tahun 2012 berjumlah 55 kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) masing masing kelompok mempunyai anggota 25 keluarga atau 1.375 Keluarga yang dibina dan tersebar di 156 Desa/Kelurahan. Adapun materi Pembinaan kelompok BKR secara garis besar mengarahkan para orang tua atau para keluarga yang mempunyai anak remaja untuk senantiasa memperhatikan pergaulan dan perkembangan anak remajanya terutama terhadap perkembangan mental spiritualnya.

 

2.   Program Kelompok Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja/Mahasiswa (Pik R/M), adalah program yang langsung diarahkan kepada para remaja. Anggota Kelompok PIK R/M ini adalah para remaja putus sekolah, para remaja di sekolah SMP, SMA dan para Remaja di perguruan tinggi  (mahasiswa), Karang Taruna serta remaja masjid (Risma). Pada tahun 2012 berjumlah 72 kelompok terdiri tiga katagori yaitu katagori Tumbuh 59 Klp. Katagori Tegak 9                                                            Klp. Katagori Tegar 4 Klp dengan masing masing kelompok  mempunyai anggota rata rata 45 remaja sehingga sekabupaten Rejang Lebong berjumlah 3.240 remaja yang dibina dan tersebar di 15 Kecamatan. Materi pembinaan kelompok Pik R/M ini secara garis besar memberi pengetahuan tentang bahaya NARKOBA, hubungan sex diluar nikah, bahaya  HIV/AID dan nikah pada usia muda untuk kemudian diarahkan agar selalu hidup sehat, rajin belajar agar siap menjadi Generasi Berencana (Genre) generasi berkualitas yang menjauhi Norkoba, sex bebas dan akan siap nikah pada usia 25 tahun bagi pria dan 21 tahun bagi wanita.

 

B.    Program Pembinaan terhadap Pasangan Usia Subur (PUS).

Pasangan Usia Subur (PUS) adalah Pasangan Suami Istri masih berusia 15 s/d 49 tahun. Pembinaannya melalui Program Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE). Program Advokasi dan Konseling hingga para PUS siap menjadi peserta KB Baru dimana sebelum dilaksanakan pelayanan setiap Pasang Usia Subur (PUS) itu terlebih dahulu diberi kebebasan untuk memilih Alat Kontrasepsi (IUD, MOP, MOW, Kondom, Implan, Suntik, dan Pil KB) yang cocok dan sesui dengan keinginannya. Pada Desember 2011 Pasangan Usia Subur (PUS) di Kabupaten Rejang Lebong berjumlah 53.899 PUS terlayani 50.313 PUS atau 93,35%. Sisa 3.586 PUS atau 6,66% adalah PUS hamil 1057. PUS Ingin Anak Segera (IAS) 1101. PUS Ingin Anak ditunda (IAT) 879 dan PUS Tidak Ingin Anak lagi (TIAL) 549.

 

C.   PEMBINAAN PASCA PASANGAN USIA SUBUR (PASCA PUS).

Pada umumnya Pasangan yang sudah pasca subur atau Pasca PUS ini adalah pasangan yang sudah matang dalam kehidupan berumah tangga karena sudah berusia 50 tahun keatas, maka pembinaanya hanya memotivasi agar mereka siap menjadi contoh atau tauladan bagi para PUS disekitar lingkungannya. Selanjutnya bagi keluarga yang memiliki orang tua lanjut usia (Lansia) pembinaannya dengan cara berkelompok yaitu melalui Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) yang pada tahun 2012 ini tercatat berjumlah 50 Kelompok setiap kelompok beranggota 25 keluarga sehingga menjadi 1.250 keluarga yang dibina dan tersebar di 156 desa/kelurahan. Kegiatan Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) diantaranya  Senam Lansia, Pengajian, Posyandu Lansia dan Kegiatan kegiatan sosial lain sesuai dengan keinginan Kelompok bersama para Lansia selaku obyek pembinaan.

 

D.  PEMBINAAN SECARA UMUM BAGI PARA ASEPTOR KB.

Pembinaan secara umum terhadap Aseptor KB dari Peserta KB Baru hingga Peserta KB Aktif selain pembinaan seperti tersebut diatas yang selalu dinamis dan berkesinambungan itu, dilaksanakan juga pembinaan melalui  kelompok kelompok:

1.   Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) yaitu pembinaan terhadap para keluarga yang memiliki anak Balita. Kelompok ini berjunlah 88 kelompok masing masing kelompok beranggota 35 keluarga atau 3.080 keluraga yang dibina dan tersebar di 156 desa kelurahan.

 

2.   Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) adalah kelompok usaha rumah tangga dalam upaya meningkatkan ekonomi para keluarga Aseptor utamanya Keluarga Pra KS dan KS I.

Kelompok ini berjumlah 62 kelompok masing masing kelompok beranggota 15 s/d 20 orang atau keluarga.

 

3.   Kelompok Bina Lingkungan Keluarga (BLK) adalah kelompok kegiatan peningkatan kualitas lingkungan keluarga. Kelompok ini berjumlah 30 kelompok masing masing kelompok beranggota 20 – 25 orang atau keluarga.

4.   Kelompok KB Pria ada 11 Kelompok dengan anggota 10 – 15 Anggota yang tersebar di 15 Kecamatan.

 

5.   Kelompok Aseptor KB diantara Kelompok KB Pria dan Dasa Wisma berjumlah 780 Kelompok dengan anggota 10 - 15 orang/kelompok atau 11.700 orang yang tersebar di 156 desa kelurahan.

 

Strategi pembinaan terhadap calon aseptor dan aseptor aktif KB  dilanjutkan melalui Kelompok kelompok Dasa Wisma, Kelompok Aseptor KB, Tokoh Agama (TOGA), Tokoh Masyarakat (TOMA) dan Tokoh Adat (TODAT) dimana masing masing desa kelurahan memilik  5 s/d 10 orang tokoh dan termasuk pembinaan melului Program Pengarus Utamaan Gender (PUG) diantaranya:

1.   Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan peran serta dalam kesetaraan gender seperti Pengetahuan tentang tata rias wajah, Tata cara berjilbab, Potong dan menata rambut, Kelompok Bordil dan Kelompok Hume Industri dengan anggota atau peserta 20 – 45 orang ibu rumah tangga pada setiap kelompok kegiatan.

 

2.   Kegiatan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) membina 34 organisasi wanita dengan anggota 5-10 org/organisasi. Kegiatannya menyuluh dan mensosialisasikan hal pengetahuan tentang Rumah Tangga, kesehatan pribadi, penampilan pribadi dan kesehatan lingkungan Rumah tangga serta menjaga keharmonisan rumah tangga. Organisasi ini tersebar di 15 kecamatan yang ada dikabupaten Rejang Lebong.

 

3.   Kegiatan Penyuluhan atau sosialisasi tentang Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) bagi ibu rumah tangga di Desa/kelurahan sekabupaten Rejang Lebong melibatkan Toga, Toma, Todat dan masyarakat secara umum.

 

Pada bagian lain yang tidak kalah penting adalah Program Perlindungan Perempuan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (PPK dan PA) dimana ahir ahir ini kasusnya terkesan marak terjadi ditengah masyarakat baik yang tinggal perkotaan maupun di perdesaan. Program ini meliputi program kegiatan:

1.   Fasilitas Pengembangan Pusat Pelayanan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Anak. Kegiatan ini diarahkan kepada 30 - 40 orang Korban.

 

2.   Fasilitas Upaya Perlindungan Perempuan Terhadap Tindak Kekerasan yang diarahkan kepada 30 – 40 orang perempuan korban.

 

Strategi pembinaan terhadap Calon Aseptor KB dan Aseptor KB Aktif yang notabene adalah pembinaan mental spritual terhadap masyarakat luas di Kabupaten Rejang Lebong, merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara dinamis dan berkesinambungan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rejang Lebong. Menyadari bahwa membentuk dan mengukir sosok masyarakat yang berguna bagi sesamanya, negara dan bangsa bukan pekerjaan yang ringan dan hanya butuh waktu sekejap mata. Akan tetapi upaya pembinaan pembentukan karakter seja dini itu suatu upaya yang tidak boleh berhenti karena dimasa mendatang anak anak yang cerdas, berkarakter baik, berkepribadian mantap,  mandiri disiplin dan memiliki etos kerja tinggi sangat dibutuhkan oleh tuntutan era globalisasi dimana pada era ini kita harus bersaing dengan bangsa bangsa lain. Oleh karenanya masyarakat luas khususnya masyarakat Rejang Lebong harus siap mengahdapinya dan itu hanya bisa tercapai apabila jumlah penduduknya terkendali dengan baik, sehingga laju pertumbuhan pada tahun 2014 dapat seimbang dengan perkembangan ekonomi yang dicapai PAD, yang pada gilirannya akan menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan perwawasan penduduk yaitu pembangunan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Dengan demikian anak anak, keluraga dan masyarakat Indonesia yang hidup dan berdomisili di wilayah Rejang Lebong perlu dipersiapkan untuk memiliki keunggulan kompratif dan keunggulan kompetitif secara global pula. Pembinaan karakter sejak dini adalah kunci utamanya. ***