Putuskan Mata Rantai Stunting TPK Perlu Dampingi Keluarga Berisiko Gizi Buruk

Wakil Walikota Bengkulu Dedi Wahyudi bincang bersama Kepala Pwk BKKBN Bengkulu Rusman Efendi. 

Bengkulu. IPKB – Wakil Walikota Bengkulu Dr. Dedi Wahyudi menyebutkan upaya memutus mata rantai stunting atau tubuh kerdil yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada bayi perlu adanya pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.

Tentunya pendampingan tersebut dilakukan oleh tim pendamping keluarga (TPK) yang ada di sejumlah daerah kelurahan/desa. Agar keluarga-keluarga yang berisiko melahirkan bayi stunting dapat dikawal sehingga tumbuh menjadi keluarga sehat, tentunya dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan dan asupan gizi.

Wawalikota Bengkulu Dedi Wahyudi saat menyampaikan sambutan pada apel siaga secara virtual yang diikuti 514 kabupaten/kota.

Keluarga yang berisiko stunting perlu mendapat pendampingan mulai dari remaja, calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu dan bayi dua tahun (baduta). Hal itu dilakukan sebagai langkah dalam intervensi sentitif, ujar Wakil Walikota Bengkulu saat mengikuti apel siaga TPK Nusantara Bergerak di Bengkulu, Kamis, 12/5.

” Dalam membantu percepatan penurunan stunting yang harus dimulai dari hulu dengan pendekatan intervensi yang dimulai sejak remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak usia 0-59 bulan. salah satu upaya percepatan penurunan stunting dibentukTPK yang bertugas memberikan edukasi, sosialisasi dan skrening pencegahan stunting pada tiga kelompok sasaran yaitu calon pengantin, ibu hamil dan keluarga yang memiliki anak usia dibawah dua tahun. ketiga kelompok sasaran ini memang yang beresiko tinggi mengalami kasus stunting”.

Pendampingan keluarga yang beresiko stunting dilakukan pendampingan terhadap catin sebanyak dua kali untuk mengetahui kondisi catin agar tidak terjadi kurang darah, lingkar lengan, indek masa tubuh, HB, tekan darah. Terhadap ibu hamil, pendampingan dapat dilakukan sebanyak delapan kali untuk memantau perkembangan kehamilan dan mendeteksi secara dini apabila muncul permasalahan. Dan pada ibu baduta pasca salin dilakukan pendampingan sebanyak dua kali untuk menjadi peserta KB dan pengasuhan tumbuh kembang anak.

Ia mengatakan apel siaga TPK agar dijadikan titik awal pelaksanaan pendampingan kepada sasaran yang dilakukan oleh tim pendamping keluarga. Menumbuhkan semangat gerakan secara masif dalam percepatan penurunan stunting melalui pendampingan keluarga serta dapat meningkatkan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan pendampingan keluarga.

Sementara itu Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu Ir. Rusman Efendi., M.M menyebutkan apel siaga TPK itu kegiatan untuk memverifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunitng.

Berdasarkan hasil pendataan keluarga (PK) tahun 2021, keluarga berisiko stunting di Bengkulu mencapai 264.391, terdapat di Kota Bengkulu sebanyak 40.500 keluarga. Keluarga tersebut menjadi prioritas untuk mendapatkan pendampingan oleh kader TPK di Bengkulu.(rs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *