Kampanye Stunting di Bengkulu Garap Wilayah Kumuh

DPR RI bersama BKKBN Gandeng Pemkot Bengkulu kampanyekan stunting di wilayah kumuh, Minggu, 30/10.

Bengkulu, – Kampanye percepatan penurunan stunting di Bengkulu menggarap wilayah kumuh. Kali ini menyasar daerah kumuh perkotaan di Kelurahan Padang Nangka, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Sosialisasi program stunting di wilayah tersebut merupakan upaya menekan potensi risiko stunting dan angka kemisinan ekstrem di daerah ini.

Kecamatan Singaran Pati tercatat sebanyak 8.738 keluarga diantaranya 3.916 keluarga masuk status keluarga berisiko stunting dengan kategori pra sejahtera dan penduduk dengan fasilitas lingkungan tidak sehat berstatus keluarga miskin ekstrem sebanyak 1.091 keluarga.

Kampanye stunting yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerjasama dengan Komisi IX DPR RI itu menggandeng pemerintah Kota Bengkulu pada akhir Oktober 2022. Tepatnya, pada Minggu 30/10 di Padang Nangka, selain Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati, S.IP., M.M bersama Kepala Perwakilan BKKBN Bengkulu Ir. Rusman Efendi., M.M juga hadir pejabat pemerintahan Kota Bengkulu, Kepala Dinas DP3APPKB mendampingi Wakil Walikota Bengkulu Dr. Dedi Wahyudi, S.E., M.M.

Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati dalam sambutan saat membuka kampanye penurunan stunting menyebutkan, bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara sepihak. Bebaskan gizi buruk yang berdampak pada anak kerdil perlu perhatian dan aksi semua pihak, baik pemerintah, lembaga swasta, para tokoh hingga masyarakat.

Wakil Walikota Bengkulu Dr. Dedi Wahyudi saat kampanye stunting di Singaran Pati, Minggu, 30/10.

“Yang paling berperan dalam meningkatkan kesehatan keluarga itu adalah masyarakat dari keluarga itu sendiri, yang mana dimulai dari sikap positif untuk merubah perilaku hidup sehat dan bersih,” kata Elva.

Ia mengajak, masyarakat warga setempat untuk menyampaikan informasi secara estafet, agar tidak berhenti pada anggota atau kelompok masyarakat tertentu saja. Sehingga memberikan nilai edukasi berkesinambungan kepada masyarakat luas, imbuh Elva.

Stunting, kata Elva disebabkan oleh beberapa faktor, terdapat salah satunya adalah faktor lingkungan tidak sehat, seperti sanitasi, air bersih yang tidak tersedia dengan baik. Kondisi tersebut sering ditemukan pada lingkungan keluarga miskin dan kumuh.

Sementara itu Wakil Walikota Bengkulu Dr. Dedi Wahyudi menyebutkan, program-program yang dikembangkan pemerintah kota dalam menekan potensi risiko stunting melalui edukasi kelompok rentan seperti remaja.

“Pemkot mengembangkan program peningkatan kesehatan reproduksi remaja, yang diawali terhadap remaja pelajar SMP dan SMA dengan memberikan pil tambah darah (PTD) dan juga menyasar para calon pengantin perempuan. Kegiatan yang relevan dengan pencegahan stunting lainnya dengan mensosialisasikan undang-undang perkawinan. Karena perkawinan yang sehat itu pada usia yang ideal, dimana BKKBN melalui programnya membatasi usia 21 dan 25 tahun bagi calon pengantin”.

Keseriusan pemerintah Kota Bengkulu terhadap program penurunan stunting dengan membuka wadah bagi remaja dengan memberikan ruang untuk mendapat pendidikan pra nikah dan pendidikan kespro, yang tersedia di sejumlah kantor kelurahan di lingkup Kota Bengkulu, ujar Dedi.

Dengan kegiatan kolaboratif tersebut diyakini mampu menekan risiko potensi stunting di Kota Bengkulu. Sehingga pada 2024 dapat mencapai sasaran yang ditargetkan dalam RPJMN sebesar 14 persen, demikian Dedi Wahyudi. (irs)

Penulis : IRS
Editor: RDA
Tanggal terbit : 31 Oktober 2022

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!