PPKS Rafflesia Beri Konseling Stunting

Bengkulu, IPKB – Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Menjadi dasar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam melaksanaan program ketahanan keluarga.

Pasal 48 (1) Kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga sebagaimana dituangkan dalam pasal 47 menyebutkan peningkatan kualitas anak dengan pemberian akses informasi, pendidikan, penyuluhan, dan pelayanan tentang perawatan, pengasuhan dan perkembangan anak. Dan peningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga.

Atas dasar itu BKKBN melalui Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) hadir sebagai balai penyuluh untuk memberikan edukasi dan konseling dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dengan berbagai penyuluhan dan konseling. Konseling kesehatan reproduksi, lansia, balita, dan PPKS Rafflesia Bengkulu berikan konseling kesehatan dalam rangka akselerasi pencegahan stunting di Provinsi Bengkulu.

Tenaga konselor kesehatan PPKS Provinsi Bengkulu Rahmi Eka Mardiansih, Amd. Keb menyebutkan, stunting itu hanya dapat dicegah dan tidak dapat diobati. Maka dari itu perlu dilakukan konseling kesehatan baik terhadap remaja, pasangan baru menikah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Kelompok tersebut menjadi sasaran utama program penyuluhan mencegah stunting.

Ia mengatakan, peluang awal terjadinya stunting pada anak dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan kespro, asupan gizi pada janin, bayi hingga usia dua tahun. Masih terdapat penyebab lain terjadinya stunting, seperti terlalu dekat jarak melahirkan, sehingga terdapatnya lebih dari satu bayi dalam pasangan keluargapun dapat mengakibatkan stunting.

Konseling stunting, mulai dari penyuluhan kesehatan reproduksi yang dikenalkan kepada remaja. Mulai pengenalan siklus haid, remaja haid tidak baik jika mengalami anemia atau kurang darah karena akan memengaruhi kesehatan reproduksi wanita, ujarnya.

Stunting merupakan salah satu gangguan tumbuh kembang yang dapat terjadi pada anak. Kondisi ini menyebabkan anak memiliki perawakan pendek atau tubuih kerdil. Namun tidak harus berputus asa akan hal itu, sebab stunting bisa dicegah sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan.

BKKBN, atas amanat undang-undang No. 52/2009 Tentang Perkembangan Pependudukan dan Pembangunan Keluarga menyelenggara dan mengembangkan program pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana (Bangga Kencana) dengan berbagai bidang, yang diantaranya terdapat sosialisasikan risiko 4 (empat) T, dan sosialisasi pola asuh orangtua sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya stunting.

Pencegahan stunting oleh BKKBN dilakukan secara bersama mitra kerja dan masyarakat dengan memberikan pendidikan tentang pola asuh tehadap bayi. Pola asuh orang tua adalah cara orang tua memperlakukan anaknya dengan menjaga, merawat, dan mendidik anaknya. Dari cara perlakuan orang tua akan mencerminkan karakteristik tersendiri yang mempengaruhi pola sikap anak kemudian hari.

Stunting dapat dicegah melalui pemunuhan asupan gizi, baik dilakukan mulai janin dalam kandungan hingga bayi usia dua tahun yang disebut dengan populer 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Pengasuhan pada masa 1000 HPK (270 hari masa kehamilan, dan 270 hari setelah anak berusia sampai dua tahun). Masa itu merupakan masa emas yang sangat penting bagi perkembangan otak dan pertumbuhan fisik anak.

Upaya lanjutan dalam pencegahan stunting dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak. Setelah berusia lebih dari 6 bulan, bayi dapat diberikan tambahan nutrisi berupa makanan pendamping ASI (MPASI).

Selain itu, dalam pencegahan tumbuh kembang fisik anak itu juga dapat dilakukan melalui penyehatan lingkungan. Faktor lingkungan seperti kebersihan lingkungan, pola pemberian makan, dan angka kejadian infeksi pada anak juga berperan terhadap risiko anak terkena stunting. Untuk itu, pastikan makanan yang diberikan dipersiapkan dengan baik sehingga kebersihannya terjamin.

Untuk dikatahui bahwa perlunya pengasuhan pada masa emas itu dengan beberapa manfaat diantaranya, dapat membentuk otak anak yang berisi dan menjadi bahan pertumbuhan sistem kekebalan tubuh yang kuat, meningkatkan nutrisi untuk ibu dan anak selama masa periode 1000 HPK, dan dapat juga mengurangi kesenjangan aspek kesehatan, pendidikan dan produktivitas generasi mendatang.

Cukupi kebutuhan zat besi, yodium, dan asam folat yang merupakan nutrisi penting yang wajib dipenuhi ibu hamil untuk mencegah stunting. Kekurangan zat besi dan asam folat dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil. Anak yang lahir dari ibu hamil dengan anemia lebih berisiko mengalami stunting.

Melalui konseling di PPKS agar dapat membantu peningkatan kesehatan ibu hamil, menyusui dan bahkan hingga pada kesehatan anak yang semata upaya menekan kasus stunting di Bengkulu. Dengan demikian akan menurunkan jumlah desa yang duitetapkan sebagai desa sasaran stunting sebanyak 60 desa di Bumi Rafflesia ini, ujarnya. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *