Warga Wilayah Kumuh Perkotaan Hadiri Kampanye Stunting

Elva Hartati, S.IP., M.M saat kampanye percepatan penurunan stunting di kampung KB di Kota Bengkulu, 10/8.

Bengkulu, IPKB – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu. Pada pekan ke-dua Agustus 2022 baru ini melaksanakan kampanye percepatan penurunan stunting di Kota Bengkulu.

Kampanye bersama unsur pemerintah daerah tersebut, DPR RI sasar wilayah kampung KB di Kelurahan Rawah Makmur, Kota Bengkulu daerah kumuh perkotaan. Yang menghadirkan ratusan peserta warga keluarga-keluarga muda di wilayah kumuh perkotaan.

Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati membuka langsung sosialisasi pencegahan penurunan stunting. Selain itu Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KB-KR) Drs. Zainin serta tampak hadir Asisten III Setda Pemerintah Kota Bengkulu Drs. Tony Elfian.

Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati bersama peserta kampanye penurunan stunting di Kota Bengkulu, Rabu, 10/8.

Elva Hartati mengatakan kepada wartawan bahwa dipilihnya wilayah kumuh perkotaan sebagai titik kampanye mengingat persoalan stunting disebabkan oleh beberapa faktor, selain kekurangan gizi, stunting juga disumbang oleh lingkungan yang tidak sehat. Sebagai wilayah kumuh perkotaan Rawah Makmur ditetapkannya lokasi fokus sosialisasi stunting, ujarnya.

Didepan ratusan audiens, Elva mengajak pemerintah daerah setempat mulai dari tingkat rukun tetangga hingga pada pengambil kebijakan di lingkungan Pemkot agar lebih meningkatkan sosialisasi program pendewasaan Usia Kawin Pertama (UKP) sebagai usia ideal untuk melanjutkan jenjang rumah tangga. Usia ideal menikah itu kata Elva, yaitu 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria.
” Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun”.

Stunting dapat berdampak terhadap perkembangan motorik dan verbal, peningkatan penyakit degeneratif, kejadian kesakitan dan kematian. Selain itu, keadaan stunting akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel neuron terhambat sehingga mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak.

Koordinator Bidang KB-KR Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Drs. Zainin dalam laporannnya menyebutkan peserta kampanye percepatan penurunan stunting bersama mitra itu melibatkan sebanyak 200 orang, dengan peserta unsur PUS muda agar kampanye stunting menyentuh sasaran.

Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. (rs)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!